Pemanasan Global Bukan Lagi Skandal?

Unik & Menarik: Data baru tentang pemanasan global cenderung membatalkan skandal perubahan iklim 2009.

Ditulis oleh Ronald Bailey (penulis buku Liberation Biology)*

Skandal Pemanasan Global 2009


Skandal Climategate meledak di masyarakat pada November 2009 dengan adanya rilis ribuan surel yang terkirim ke dan dari peneliti-peneliti yang terkait dengan Unit Penelitian Iklim (CRU) di University of East Anglia. Peristiwa tersebut menjadi skandal karena sebagian dari surel-surel itu tampaknya menyiratkan bahwa peneliti-peneliti iklim terkemuka mungkin telah merekayasa data iklim historis dengan tujuan membuat pemanasan global terkini terlihat lebih buruk daripada yang sebenarnya. Kecurigaan tertuju pada tiga perangkat data suhu historis: serial Hadley Centre (CRU), NASA Goddard Institute for Space Studies (GISS), dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Sebagai contoh yang tepat dari manipulasi yang tidak sah secara ilmiah tersebut, keragu-raguan terarah pada sebuah surel dari Tom Wigley, ilmuwan iklim National Center for Atmospheric Research, yang di dalamnya ia menyebut suhu pertengahan abad 20 serendah 0,15 derajat Celsius. Akibatnya, pemanasan global belakangan terlihat lebih tajam.

Dalam sebuah surel lain dari kepala CRU, Phil Jones melaporkan, "Saya baru saja menyelesaikan rekayasa Mike's Nature dengan menambahkan temperatur nyata untuk setiap serial selama 20 tahun terakhir (yaitu 1981 dan seterusnya) dan sejak 1961 untuk [serial] Keith untuk menyembunyikan penurunan." [Ilmuwan-ilmuwan] skeptis mencela "tipuan" tersebut karena ia melampirkan data termometer (secara besar-besaran tanpa mengakuinya) pada akhir rangkaian data cincin-pohon yang di situ seperangkat lengkap data cincin-pohon menyiratkan bahwa temperatur justru menurun, bukan meningkat. Sebuah grafik yang menggunakan data yang telah direkayasa tersebut yang menunjukkan peningkatan tajam suhu mutakhir belahan utara telah dipublikasikan sebagai kover pernyataan World Meteorological Association mengenai status iklim pada tahun 1999.

Apakah [kasusnya hanyalah bahwa] para pendukung adanya pemanasan global itu mencomot data temperatur untuk menyokong klaim mereka bahwa bumi pada dasarnya telah memanas lantaran emisi gas rumahkaca dari pembakaran bahanbakar fosil? Roger Pielke Jr., profesor studi lingkungan University of Colorado, memberitahu saya pada 2009 itu, "Kalau pun dirilis bahwa pilihan-pilihan yang dibuat oleh CRU, GISS, NOAA itu jatuh pada ujung skala 'kecenderungan historis maksimal', itu takkan membantu kredibilitas mereka yang dipersepsi [masyarakat] lantaran alasan-alasan yang jelas." Di sisi lain, Pielke menambahkan bahwa skandal Climategate bisa pudar jika penyelidikan oleh peneliti-peneliti luar ternyata mendapati bahwa para peneliti CRU, GISS, dan NOAA itu membuat rekayasa data temperatur "di tengah-tengah kisaran atau bahkan di ujung yang rendah, sehingga ini akan menaikkan kredibilitas mereka."

Proyek Peneliti Luar


Pada 2010, Richard Muller ahli fisika University of California memutuskan untuk menjadi peneliti luar semacam itu. Mengapa? Dalam suatu kuliah pada 1 Oktober 2010, Muller menjelaskan bahwa ia sangat terprovokasi oleh implikasi dari rekayasa "menyembunyikan penurunan [suhu]" pada data cincin-pohon tersebut. Konsekuensinya, Muller mendirikan kelompok BEST (Berkeley Earth Surface Temperature) dengan tujuan mengecek akurasi perangkat-perangkat data temperatur yang dipasang oleh para klimatolog yang terlibat dalam skandal Climatage.

Dengan mengesampingkan kemungkinan manipulasi data yang disengaja atau pun tak disengaja, para pemeriksa pemanasan global tersebut juga menaruh perhatian pada kualitas data yang yang digunakan untuk menentukan kecenderungan temperatur. Mereka menunjukkan bahwa banyak stasiun-cuaca menjadi sasaran pengaruh gelombang panas perkotaan ketika kota-kota tumbuh di sekitar mereka dan bahwa perubahan lokasi dan perlengkapan secara besar-besaran bisa secara palsu menyiratkan peningkatan temperatur.

Tim BEST menciptakan suatu perangkat baru yang sangat banyak, yang mengandung 1,6 milyar laporan suhu yang menggunakan data kasar dari lebih dari 39.000 situs-situs pengukuran yang berlainan. Datanya berasal dari lebih dari lima kali stasiun yang dipakai untuk memasang perangkat-perangkat data terdahulu.

Lantas, apa yang ditemukan oleh tim BEST?


Pada 20 Oktober [2011], BEST mengeluarkan rilis pers yang menyatakan, "Kendati masalah-masalah dikemukakan oleh para peragu perubahan iklim, penelitian Berkeley Earth Surface Temperature menjumpai bukti yang dapat diandalkan mengenai peningkatan rata-rata suhu tanah bumi sebesar sekitar 1°C sejak 1950-an."

Muller menambahkan, "Kejutan terbesar kami adalah bahwa hasil-hasil baru ini sangat dekat dengan angka-angka pemanasan yang diterbitkan terdahulu oleh tim-tim lain di Amerika Serikat dan Britania Raya. Ini menegaskan bahwa berbagai penelitian ilmiah tersebut dilakukan dengan hati-hati dan bahwa potensi bias yang dikenali oleh para peragu [perubahan] iklim tidak secara serius mempengaruhi simpulannya." Begitulah perihal skandal Climategate.

Tim BEST berfokus pada suhu tanah karena [variabel] itulah yang dianggap paling mungkin untuk disimpangkan. Tim tersebut menyatakan bahwa begitu data suhu lautan dimasukkan, peningkatan suhu rata-rata global sejak 1950-an itu turun sampai sekitar dua-pertiga derajat Celsius.

Muller menekankan, "Yang belum dilakukan oleh Berkeley Earth adalah membuat penilaian mandiri tentang seberapa banyak pemanasan itu terjadi lantaran ulah manusia." Sungguhpun demikian, satu dari empat hasil penelitian yang dirilis oleh BEST itu memperhatikan pengaruh arus lautan terhadap kecenderungan suhu global, terutama pengaruh pergeseran suhu permukaan laut yang terkait dengan Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO). Penelitian tersebut mengakui bahwa meningkatnya gas rumahkaca atau pun variasi alam bisa mengubah suhu AMO. Kalau penyebabnya adalah variasi alam, maka itu menyiratkan bahwa "unsur [ulah] manusia dalam pemanasan global mungkin [selama ini] agak dilebih-lebihkan."

Gambar Unik: Sapi dan Lumba-lumba dalam Pemanasan Global

Secara alamiah, pendukung adanya pemanasan global antropogenik [yaitu akibat ulah manusia] merasa senang dengan hasil-hasil BEST tersebut, sedangkan para peragu merasa kecewa. Bagaimanapun, Muller memberitahu BBC pada 29 Oktober [2011] bahwa data [suhu] tanah BEST menunjukkan tidak ada indikasi bahwa pemanasan global akibat ulah manusia telah berhenti atau pun menurun. Menariknya, sebagian pendukung adanya pemanasan global antropogenik menerima bahwa "suhu permukaan global tidak naik antara 1998 dan 2008." Mereka menyalahkan faktor-faktor variabilitas alam dan meningkatnya polusi udara untuk kekosongan itu.

Skandal baru tentang pemanasan global?


Pernyataan tegas Muller mengenai kecenderungan suhu terkini itu memancing komentar dari para peragu dan seorang anggota tim BEST itu sendiri, Judit Curry sang klimatolog Georgia Tech. Sebuah artikel sains dengan headline provokatif ("Ilmuwan yang menyatakan perubahan iklim yang telah dibuktikan keliru oleh para peragu dituduh menyembunyikan kebenaran oleh rekannya") di Daily Mail melaporkan bahwa Curry menuduh Muller "berusaha menyesatkan publik dengan menyembunyikan fakta bahwa penelitian BEST menunjukkan bahwa pemanasan global telah berhenti." Artikel tersebut mengutip Curry ketika menegaskan, "Tidak ada landasan ilmiah untuk menyatakan bahwa pemanasan belum berhenti. Maksudnya, ada penurunan kredibilitas data tersebut, yang sangat disayangkan."

Sungguh mengejutkan betapa cepat orang-orang melompat pada simpulan-simpulan (yang jelas merupakan prasangka) bila mengenai fenomena yang terkuak secara lambat, seperti perubahan iklim. Artikel Daily Mail itu menimbulkan banjir headline dari para peragu pemanasan global, termasuk "Rekayasa tentang Iklim Berlanjut" dan "Saatnya untuk Sebuah Skandal Lain dari Ilmu Iklim."

Akan tetapi, tampaknya Curry telah memetik pelajaran tentang bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menyesatkan dari para wartawan. Di blognya, Climate Etc., secara gamblang ia nyatakan, "Ini BUKAN skandal baru. ... TIDAK ada kesamaan antara situasi ini dengan [skandal] Climategate."

Info Terkini tentang Pemanasan Global


Pada kenyataannya, Curry dan Muller berbincang-bincang bersama selama 90 menit pada awal pekan ini di Third Santa Fe Conference on Global and Regional Climate Change. "Saya perlu mengatakan bahwa tidak banyak perbedaan pandangan antara kami berdua," kata Curry. "Singkatnya, saya oke-oke saja dengan apa yang terjadi di proyek BEST." Akhir dari skandal.

Dikontak melalui surel, Curry memberitahu saya bahwa ia "tidak menganggap temuan awal dan analisis mereka sebagai kata terakhir tentang hal ini" tetapi menambahkan, "Interpretasi mereka bukannya tidak masuk akal." Ia menunjuk pada halaman FAQ dalam situs BEST yang menyimpulkan bahwa "fluktuasi [suhu global] tiap sepuluh tahun itu terlalu besar untuk memungkinkan kita untuk mengambil simpulan terakhir mengenai kecenderungan jangka panjang berdasarkan pemeriksaan yang teliti terhadap periode-periode sesingkat 13 sampai 15 tahun."

Sebuah hasil penelitian terkini yang baru saja dipublikasikan oleh sebuah kelompok pencipta model iklim terkemuka berpendapat bahwa "catatan suhu selama sekurang-kurangnya 17 tahun diperlukan untuk mengidentifikasi pengaruh [ulah] manusia terhadap suhu rata-rata lapisan terendah atmosfer global." Dengan mempertimbangkan bahwa waktu jeda pemanasan global pada beberapa catatan telah berlangsung selama 13 sampai 15 tahun, mungkin kita akan segera menjadi tahu apakah model-model iklim itu membuahkan hasil yang valid ataukah tidak, dan mendapatkan ide yang lebih baik tentang seberapa banyak pemanasan global bisa dihubungkan dengan akumulasi gas-gas rumahkaca.

Walau cekcok statistik mengenai hasilnya akan terjadi, proyek BEST telah menetapkan standar transparansi ilmiah yang terpuji perihal data dan penanganannya. Ini akan turut membersihkan sedikit noda di mata publik perihal ilmu iklim yang disebabkan oleh sekelompok ilmuwan iklim otoriter yang terlibat dalam skandal Climategate.*** (www.GAMBARAN.info)

* Diterjemahkan oleh Jujur Pujianto dari artikel Ronald Bailey, "The End of Climategate?," dalam Reason.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar